Print

Dari Susin hingga Minas

Written by Tim Website on . Posted in Ayo ke Sinjai !!

Sinjai membuat gebrakan. Daerah yang sebelumnya dikenal sebagai wilayah agraris dan maritim kini tampil beda. Sinjai menjadi penghasil susu sapi yang kemudian dikenal dengan istilah Susin (susu sinjai). Pengembangan sapi perah di Kabupaten Sinjai dimulai pada 2001. Saat itu pemerintah pusat mengalokasikan enam ekor sapi perah ke Sulawesi Selatan. Bantuan itu ditempatkan di Kabupaten Sinjai sebagai uji coba. Sapi perah dipelihara oleh Kelompok Batuleppa, Desa Gunung Perak Kecamatan Sinjai Barat. Uji coba ternyata menjadi penyemangat bagi petani lain di daerah ini. Pengalaman memelihara enam ekor sapi perah percobaan membuat animo masyarakat semakin tinggi untuk memelihara sapi perah.
 
Rudiyanto menangkap animo masyarakat itu. Ia mendorong pengembangan sapi perah di Kabupaten ini. Tahun 2004 susu yang dihasilkan oleh masyarakat diolah menjadi susu pasteurisasi. Susu hasil olahan itu kemudian diberi merk dagang Susin, Susu Sinjai. Saat itulah Susin mulai diperkenalkan kepada masyarakat luas. Pengenalan tak hanya dilakukan melalui ajang pameran, tetapi juga dengan menyelenggarakan lomba minum susu. Penyelenggaraan lomba tak sebatas di wilayah Sinjai, tapi sampai di Makassar dan kota-kota lainnya. Susin kemudian dikemas dalam bentuk gelas 150 cc dengan dua macam rasa: coklat dan strawberry. Susin sebagai produksi sapi perah akhirnya tidak hanya dikenal di Sulawesi Selatan, tetapi juga banyak provinsi lain di Indonesia.
 
Susu ini bisa langsung dikonsumsi karena telah melalui proses pasteurisasi. untuk menjadikannya go internasional , Produk Susin diluncurkan di Mall GTC, Tanjung Bunga, Makassar, Minggu (20/5). Acara perkenalan susu tersebut dirangkaikan dengan lomba minum Susin yang diikuti anak-anak TK dan SD. Bupati Sinjai Andi Rudiyanto Asapa dan Istrinya, dr. Felicitas Asapa M.Kes hadir dalam acara itu. Keduanya juga mencicipi susu yang dibuat aneka rasa seperti cokelat, strawbery, vanila, dan susu putih.
 
Tahun 2011, produk susu sapi perah masyarakat Sinjai memperoleh penghargaan dari Presiden Republik Indonesia. Penghargaan Adikarya Pangan Nusantara Tahun 2011 itu diterima oleh Ketua Koperasi Susu Sintari, Sinjai Barat. Susin merupakan produk susu olahan pasteurisasi yang pertama di Indonesia Timur. Oleh karena itu, tidak keliru bila disebut Susin sebagai pionir pengembangan sapi perah di Kawasan Indonesia Timur.
 
Tak Hanya itu saja yang bisa kita nikmati ketika berada di Bumi Panrita Kitta Sinjai, selain olahan pabrik seperti susin tadi, anda juga bisa merasakan racikan tradisional khas Sinjai, minuman yang satu ini memang tidak sepopuler SUSIN akan tetapi minuman inipun sering menjadi komsumsi masyarakat di luar Sinjai, nama minuman ini adalah MINAS (Minuman Khas Sinjai).
 
Minuman ini dibuat sebagai pengganti minuman keras. Masyarakat Sinjai yang sebagian besar nelayan, memerlukan minuman penghangat badan, maka lahirlah minuman khas Sinjai yang biasa disebut minas (minuman asli Sinjai). Minuman ini juga memiliki khasiat memulihkan dan menambah tenaga setelah lelah bekerja. Pembuatan minuman minas ini tidak sulit. Bahan dasar yang diperlukan untuk membuat sepuluh botol minas dibutuhkan sekitar 15 kilogram tape singkong. Selain itu juga ditambah susu, telor, air kelapa, madu, sedikit tuak, buah durian dan buah-buahan lainnya. Aroma minuman ini mengikuti musim. Bila sedang musim durian, maka aroma buah durian sangat terasa di minuman ini. Semua bahan kemudian dicampur dan dihancurkan dengan blender kemudian didinginkan di dalam freezer kulkas.  Kini minuman siap dikonsumsi. Agar dapat dibawa, minuman khas Sinjai ini dikemas ke dalam botol plastik.
 
Nah, bila Anda berkunjung ke Kota Sinjai, tidak ada salahnya mencicipi minuman ini sambil makan ikan bakar. Karena minuman ini hanya ada disini, tidak tersedia di kota lain selain di Sinjai.

Kegiatan SKPD