Minggu, 19 November 2017
Benteng Balangnipa

Benteng Balangnipa

Sebuah Arsitektur bangunan kuno dengan gaya eropa berdiri kokoh di kawasan tenggara Sulawesi Selatan. Sebuah benteng pertahanan yang terletak di kelurahan Balangnipa Kecamatan Sinjai Utara Kabupaten Sinjai berjarak sekitar 1 km dari pusat kota dan merupakan salah satu dari tiga benteng terbesar di Sulawesi Selatan mendampingi Fort Rotterdam di Makassar dan Benteng Somba Opu di Gowa.

Kemegahan dan kekokohan Benteng Balangnipa dimulai pada awal abad XVI atau sekitar tahun 1557 oleh Kerajaan Tellulimpoe (Lamatti, Tondong, Bulo-bulo) yang pada awal pembangunannya hanya terbuat dari batu gunung yang diikat dengan Lumpur dari Sungai Tangka dengan ketebalan dinding “Siwali Reppa” atau setengah sepa. Bentuk dan struktur bangunan benteng menghadap ke Sungai Tangka di utara. Benteng ini memiliki 4 buah Bastion (pertahanan) yang membentuk segi empat oval.

Perlawanan kerajaan Tellulimpoe menentang agresi militer Belanda dalam sejarah yang dikenal dengan Rumpa’na Mangarabombang atau perang Mangngarabombang yang terjadi pada tahun 1859-1961. Benteng Balangnipa berhasil direbut pada tahun 1859 karena kekuatan dan peralatan perang kerajaan Tellulimpoe tidak sebanding dengan yang dimiliki oleh Belanda. Belanda kemudian menjadikan Benteng Balangnipa sebagai markas pertahanan untuk membendung serangan orang-orang pribumi persekutuan kerajaan Tellulimpoe maupun serangan dari luar.

Pada tahun 1864 Benteng Balangnipa direnovasi oleh Belanda dengan menggunakan sentuhan arsitektur Eropa dan selesai pada tahun 1898. Bentuk ini yang bertahan sampai sekarang tapi tetap memiliki struktur yang sama. Sisi utara dengan luas 49,45 m, sisi barat 49,10 m, sisi selatan 30,47 m, sisi timur 49,27 m. ketebalan dinding 0,50 m. Pintu Benteng memiliki lebar pintu utama 4 m dengan 2 daun pintu dimana pada terusan pintu terdapat terowongan menuju dalam Benteng. Pada sisi terowongan terdapat tempat penahanan. Bastion adalah sudut-sudut Benteng yang terletak di barat laut, barat daya, tenggara dan timur laut. Di dalam Benteng terdapat beberapa bangunan yang terdiri dari 2 buah dapur, 3 buah rumah, 1 bangunan bekas tempat Mesiu dan 4 buah sumur. Di bawah Bastion tepatnya pada tangga melingkar tempat pengintaian terdapat sel yang merupakan saksi penyiksaan para pejuang terdahulu. Hasil renovasi ini telah menghilangkan ciri bangunan tradisional Bugis-Makassar.

Salah satu bukti sejarah dalam kawasan ini adalah ditemukannya sebuah meriam perunggu yang berukuran panjang 96 Cm, lingkaran mulut 11 Cm, serta lingkaran badannya 18 Cm. Meriam yang sama ditemukan juga di depan rumah Raja Lamatti. Bukti sejarah lain yang terkait dengan kerajaan di Tongke-tongke adalah ditemukannya keramik asing serta besi yang memiliki ciri berasal dari jenis Ming, Ching, Swato, Jepang, Sawankhlok, dan Eropa.

Benteng Balangnipa sekarang telah menjadi situs bersejarah dan museum yang menampilkan peninggalan bersejarah dan juga memberikan pembinaan budaya serta menjadi arena atraksi budaya tradisional.

Fort Balangnipa

Kharisma Fort Balangnipa

An ancient architecture of European style stands firmly in the southeastern region of South Sulawesi. A fortress is located in the village of North Sinjai district Balangnipa Sinjai is about 1 km from the city center and is one of the three largest forts in South Sulawesi accompany Fort Rotterdam in Makassar and Gowa Somba Opu .

Pomp and robustness Balangnipa Fortress began in the early sixteenth century, or about the year 1557 by the Royal Tellulimpoe (Lamatti, Tondong, Bulo-Bulo) that at the beginning of its development only made of mountain stone tied with Mud River Tangka with wall thickness “Siwali Reppa” or half uninteresting. The shape and structure of the building overlooking the fort in northern Tangka. The fort has 4 pieces Bastion (defense) that form a rectangle oval.

Resistance against aggression Tellulimpoe royal Dutch military in history known as Rumpa’na Mangarabombang or Mangngarabombang war that took place in 1859-1961. Balangnipa fort was captured in 1859 because of the power and the kingdom of war equipment Tellulimpoe not comparable with those of the Netherlands. Holland then make castle Balangnipa as defense headquarters to stem attacks indigenous people kingdom Tellulimpoe fellowship and attacks from outside.

In 1864 the fort renovated by the Dutch Balangnipa using European architectural touches and completed in 1898. These shapes which survived until now but it still has the same structure. The north side of the wide 49.45 m, 49.10 m west side, the south side of 30.47 m, 49.27 m east side. wall thickness of 0.50 m. The castle has a door width of 4 m main door with 2 doors on the canal where there are doors in the tunnel leading to the Citadel. On the side of the tunnel there is a place of detention. Bastion is the corners of the fort is located in the northwest, southwest, southeast and northeast. Inside the fort there are several buildings that consists of 2 kitchens, 3 houses, 1 former building Munitions and 4 wells. Under Bastion exactly on the lookout circular staircase there is a witness to the torture cells of the former fighters. The results of this renovation has removed the traditional building characteristics Bugis-Makassar.

One of the historical evidence in this area is the discovery of a bronze cannon that a length of 96 cm, 11 cm circular mouth, and his circle of 18 cm. The same cannon was found also in front of the home of King Lamatti. Another historical evidence related to the kingdom in Tongke-tongke is the discovery of foreign ceramics and iron that has a characteristic derived from the type of Ming, Ching, Swato, Japan, Sawankhlok, and Europe.

Balangnipa fort has now become a historic site and museum displays historic relics and cultural development and also provide an arena for traditional cultural attractions.

Komentar Facebook

About admin