Minggu, 19 November 2017

INOVASI, Jangan Mati Suri

Inovasi, Jangan Mati Suri

Oleh Lukman Dahlan

Sejak Lembaga Administrasi Negara menerapkan Pendidikan dan Pelatihan Kepemimpinan ( Diklatpim) Tingkat I, II, III, dan IV pola baru, potret penyelenggaraan Diklatpim bagi aparatur pemerintah mengalami perubahan besar. Perubahan tidak hanya sebatas kurikulum, model dan system pembelajaran, tujuan dan hasil belajar, tetapi juga sasaran akhir dari Diklat.

Kesan Diklatpim selama ini yang mengharuskan peserta berada di kelas dalam durasi yang sangat lama dan menjenuhkan peserta, berubah menjadi aktivitas on campuss dan off Campus. Kampus sebagai tempat pembelajaran dan tempat kerja sebagai Laboratorium Kepemimpinan. Peserta pun mengikuti proses Diklat dengan lebih rileks. Pola lama, menyelesaikan tugas akhir yang ditandai dengan selesainya sebuah kertas kerja ditinggalkan, dan berubah menjadi menyiapkan sebuah proyek perubahan. Arahnya, Diklatpim menciptakan pemimpin perubahan.

Pemimpin perubahan adalah pemimpin yang dapat melakukan perubahan adaptive, yakni perubahan yang tidak hanya melibatkan cara berpikir saja, tetapi mampu mempengaruhi orang lain yang terkait dengan ide dan gagasan perubahan itu, mampu berkolaborasi dengan pihak lain untuk terlibat dalam perubahan serta matang dalam emosi untuk menghadapi lingkungan yang boleh jadi menentang gagasan dan perubahan yang akan dilakukan.

Dengan pola baru Diklapim, kesibukan peserta diklat terlihat, sejak minggu minggu pertama di arena diklat. Setelah dibekali materi diklat seperti Diagnostic Reading, Membangun Tim Efektif, hingga Koordinasi dan Kolaborasi, proyek perubahan pun mulai digarap. Peserta Diklat mencoba mendiagnosis persoalan di lingkungan kerja, mencari solusi adaptive hingga menemukan ide ide baru, yang menjadi inovasi.

Proses ini, bukanlah mudah. Butuh beberapa kali konsultasi ke Coach dan juga ke mentor, yang tak lain adalah atasan lansung Reformer, sebutan keren bagi peserta diklat sebagai pemimpin perubahan. Pro dan kontra atas ide dan rencana inovasi dari sesama peserta atau di lingkungan kerja juga harus dihadapi dengan kematangan emosi reformer. Tidak hanya sampai disitu, Reformer juga masih harus dapat meyakinkan serta mendapatkan dukungan dari sejumlah stakeholder baik internal maupun eksternal. Setidak tidaknya, sang reformer menyampaikan gagasan, ide dan rencana inovasinya, untuk memastikan, Judul Proyek Perubahan benar benar dapat diterima dan didukung. Jalan panjang merumuskan inovasi berlanjut pada pelaksanaan proyek perubahan berdasarkan milestone yang dibangun dan direncanakan, hingga ujian untuk menunjukkan bahwa ide, gagasan dan inovasi dalam proyek perubahan telah terlaksana dan terbukti.

Proses membentuk pemimpin perubahan, dengan motode Diklatpim pola baru ini, harus diakui sebagai proses yang sangat baik. Apalagi, dalam proses diklat, proyek perubahan peserta diklat terbukti dapat diwujudkan (layak), melewati proses ujian dan pengakuan dari coach, mentor (atasan lansung) dan juga penguji. Keberhasilan memantik semangat para pejabat struktural untuk bergerak dari kebiasaan larut dalam rutinitas menjadi berpikir out of the box dan melahirkan ide perubahan pada area perubahan yang jelas, memberi harapan besar akan semakin optimalnya kinerja Organisasi Pemerintah dalam mencapai Visi dan Misi Organisasi di masa yang akan datang. .

Sayangnya, semua proses yang dilewati dan hasil yang diraih dalam Diklat, tak selalu berbanding lurus dengan implementasi pascadiklat. Dalam pengamatan penulis, sebagian besar, jika tidak dapat disebut hampir semua proyek perubahan akhirnya mandek setelah Diklat ditutup. Ide ide baru dan implementasi yang amat ideal dan layak itu, akhirnya tidak berjalan. Seakan, semua telah selesai dengan diterimanya selembar Surat Tanda Tamat Pendidikan dan Pelatihan. Jangan, berpikir bahwa sasaran jangka menengah dan jangka panjang tercapai, bekas hasil dari capaian milestone jangka pendek pun kadang lenyap seakan hilang ditelan aktivitas lain alumni Diklat Pim. Proyek perubahan pun, seakan mati suri.

Lalu, dimana masalahnya? Bukankah pada saat Diklat berlangsung, peserta amat antusias menunjukkan ide dan inovasi terbaiknya ? Bukankah pameran rancangan proyek perubahan yang dilaksanakan peserta diklat begitu ramai dan penuh semangat ? Bukankah, pimpinan telah berikan dukungan, dan meyakinkan penguji bahwa inovasi yang digagas sangat bermanfaat, dapat dilaksanakan? Stakeholders pun sudah menyatakan kesiapan memberi dukungan.

Rendahnya persentase Proyek Perubahan yang benar benar diimplementasikan di lingkungan pekerjaan oleh peserta pascadiklat, dapat disebabkan beberapa hal. Pertama, rendahnya semangat dan motivasi alumni Diklatpim, untuk mendorong dan memastikan bahwa proyek perubahan yang dihasilkan adalah perubahan yang urgen, harus diterapkan di tempat kerja, berkesinambungan dan berlanjut, serta bukan sekedar bahan untuk lulus dalam ujian Diklat. Kondisi ini diperparah, tidak adanya system evaluasi dan pemantauan berkesinambungan atas implementasi proyek perubahan pasca diklat.

Kedua, rendahya perhatian pimpinan untuk memberikan dukungan penerapan berkelanjutan atas ide dan proyek perubahan yang merupakan gagasan orisinil bawahannya. Bahkan, boleh jadi sangat jarang ada pimpinan yang menagih atau sekedar menanyakan ke bawahannya tentang progress dan keberlanjutan penerapan proyek perubahan, meskipun sejak awal sang pimpinan terlibat menyetujui, mendukung dan bahkan membela habis habisan bawahannya di depan penguji ketika ujian Diklat berlansung.

Ketiga, belum adanya system penghargaan atau apresiasi yang lebih nyata terhadap setiap jenis ide dan gagasan perubahan. Budaya apresiasi atas inovasi di lingkungan birokrasi pemerintahan sangat lemah.

Agar inovasi tidak mati suri, perlu kepedulian semua pihak, untuk mendorong dan mengimplementasikan proyek perubahan pasca diklat. Amat disayangkan, jika ide ide cerdas yang membawa perubahan itu akhirnya menjadi catatan pelengkap kelulusan diklat saja. Cara berpikir lama, menganggap Diklat sebagai kewajiban dan ikut diklat adalah sekedar menggugurkan kewajiban atau asal memenuhi ‘persyaratan’ formal, saatnya dihentikan.

Kepedulian dapat diwujudkan dengan memberikan apresiasi khusus dan istimewa pada proyek perubahan terbaik, melalui kompetisi berkala atas inovasi inovasi yang lahir dari Diklat di semua instansi pemerintah. Kepedulian yang paling sederhana dan mudah adalah, atasan lansung atau pimpinan instansi harus dapat menagih dan memantau pelaksanaan proyek perubahan yang telah digagas oleh PNS. Bahkan, jika membutuhkan anggaran, melalui penetapan kriteria tertentu, inovasi terbaik layak mendapatkan alokasi anggaran.

Dalam tataran praktis, di Lingkungan Pemerintah Daerah, budaya apresiasi terhadap inovasi dapat diciptakan melalui sebuah kegiatan Pemberian Penghargaan kepada Inovasi Terbaik. Salah satu model yang dapat diterapkan adalah, setiap alumni Diklatpim, sebelum kembali melaksanakan tugas di tempat tugasnya (pascadiklat) diberi kesempatan memaparkan kembali inovasi / proyek perubahannya di depan Tim Inovasi yang terdiri dari unsur Asisten Sekda, Staf Ahli, Litbang, Bappeda, BKDPSDMA Badan Pengelola Keuangan serta Bagian Organisasi. Tim ini mereview, menilai, menganalisis dan menggali lebih banyak hal dari sebuah gagasan Proyek Perubahan. Sebut saja, misalnya keterkaitan proyek perubahan dalam mendukung Visi dan Misi Daerah, dampak besar bagi kemajuan organisasi dan pelayanan public, kinerja, efektivitas dan efisiensi organisasi dan lainnya. Tim Inovasi menetapkan Inovasi terbaik dan mendapatkan Penghargaan dari Kepala Daerah. Selanjutnya, jika layak Tim Inovasi dapat merekomendasikan diterapkan menjadi sebuah kebijakan daerah, dan mendapatkan dukungan alokasi anggaran dari APBD.

Akhirnya, menjadi tugas kita semua untuk terus mendorong Inovasi untuk kemajuan negeri. Tak terkecuali, inovasi yang lahir dari para Pemimpin Perubahan, yakni dari alumni Diklatpim. Gejala rendahnya kesinambungan implementasi proyek perubahan atau inovasi pascadiklat, sebagai fakta yang tak terbantahkan, perlu disikapi dengan kolaborasi dan agenda aksi yang nyata. Lembaga Penyelenggara Diklat, alumni Diklat dan Instansi asal peserta diklat baik Kementerian/ Lembaga dan Pemerintah Daerah, sebaiknya bersama merumuskan kembali langkah langkah konkrit. agar inovasi itu tidak mati suri.

Seiring metode diklat pola baru, ribuan inovasi telah dilahirkan dari proses pembelajaran di bangku diklat. Inovasi inovasi itu harus berlanjut dan benar benar terimplementasi dengan baik, dengan dukungan dan kepedulian semua pihak. Patut diingat, uang rakyat dari APBN dan APBD telah banyak diserap untuk membentuk pemimpin berkarakter, berintegritas, professional serta menjadi tokoh perubahan melalui Diklat. Ini artinya, jika kita gagal peduli untuk memastikan implementasi berkesinambungan inovasi inovasi itu, bukan saja telah mematisurikan kreativitas dan inovasi para pejabat struktural yang telah mulai kuncup dan mekar di saat Diklatpim, tetapi juga kita tak akan pernah menggapai kemajuan dan menciptakan perubahan. Bahkan, boleh jadi, secara tak sengaja, kita telah menjadi bagian dari penyebab kegagalan pencapaian target outcome dari Anggaran Diklat yang cukup besar itu. Wallahu A’lam Bissawwab. .

Komentar Facebook

About Haryanti Arief