Sabtu, 27 Mei 2017
Mappanre Tasi

Mappanre Tasi

Wilayah pesisir Kabupaten Sinjai merupakan suatu kawasan pantai dan pulau dengan potensi perikanan yangcukup besar. Dengan panjang garis pantai kurang lebih 28 km termasuk keliling pulau dengan potensi penagkapan. Budidaya laut ( keramba dan jaring apung ), perairan umum ( sungai kolam ) sangat menjanjikan. Dengan garis pantai sepanjang 28 km yang terdiri atas wilayah pantai daratan panjang 17 km dan wilayah kepulauan dengan panjang garispantai 11 km. Disamping itu memiliki hutan bakau seluas 751 Ha. Dengan panjang garis pantai yang dimiliki oleh Kabupaten Sinjai memilik prospek yang cerah dalam hal pengembangan usaha disektor perikanan dan kelautan, seperti perikanan tangkap, budidaya laut, budidaya tambak, budidaya air tawar dan wisata bahari. Kabupaten Sinjai dengan potensi perikanan yang cukup besar dan didukung dengan ketersediaan sarana dan prasarana pangkalan pendaratan ikan (PPI), sehingga sangat memungkinkan bagi pengembanagan usaha di sektor kelautan dan perikanan. Hal ini memberikan dukungan yang besar dalam upaya mewujudkan Kabupaten Sinjai sebagai pemasok ikan terbesar di Sulawesi Selatan. Selai perikanan tangkap, Kabupaten Sinjai juga memiliki potensi yang besar untuk pengembangan budidaya laut, tambak dan budidaya air tawar. Melihat potensi sektor kelautan dan perikanan yang cukup besar dengan tersedianya Tempat Pelelangan Ikan (TPI) yang merupakan TPI terbesar di Indonesia Timur dan Kekayaan Iaut Yang dihasilkan kabupaten Sinjai merupakan salah satu penghasil APBD terbesar dalam menunjang kelancaran Pembangunan Kabupaten Sinjai , maka Kabupaten Sinjai telah mengembangkan produk-produk unggulan perikanan, baik perikanan tangkap maupun perikanan budidaya berupa budidaya laut, tambak, air tawar dan sektor wisata bahari.

Salah satu Prosesi Mappanre Tasi  Masyarakat Pesisir Kabupaten Sinjai
       Upacara tradisonal Pesta Nelayan Mappanre Tasi’ adalah upacara yang dilaksanakan oleh masyarakat nelayan di Kelurahan Lappa, Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan. Pesta nelayan Mappanre Tasi’ sebagai suatu tradisi dalam pelaksanaannya diadakan sesajen dan sesembahan lainnya berupa kambing, ayam, telor, pisang, kelapa, nasi ketan dan ayam serta peralatan upacara sesuai dengan ketentuan yang pernah dilakukan.
Pada saat pembukaan, rombongan Sanro (dukun) dengan diiringi tabuhan gendrang bulo  (gendang makassar) dan diiringi dengan tari-tarian serta membawa kelengkapan upacara adat memasuki tempat upacara dan menempati ruangyang telah disediakan. Sesajen yang dibawa terlebih dahulu diperlihatkan kepada undangan dan para nelayan sebelum sesajen siap dibawa. Selesai pemeriksaan, Sanro beserta pengikut upacara yang membawa sesajen dan kelengkapan upacara diberangkatkan ke laut sebagai acara puncaknya. Tempat pelepasan sesajen ada tiga  : pertama di Massangkae ( sungai ), kedua di Bongkasae ( Muara ), ketiga / acara puncak di Ello Pute ( tengah laut ).
Undangan dan masyarakat pesisir ikut menyaksikan pelepasan sesajen dengan menaikin perahu yang sedang ikut lomba hias perahu. Persemabahan atau kegiatan yang dilakukan di laut adalah meletakkan / melepas sesajen kedasar laut kemudian pemilik kapal mengambil air disekitar sesajen dan menyiram kapalnya agar mendapat berkah dari upacara tersebut .
Dengan demikian pada penyelenggaraan sebagaimana telah disaksikan, selain sekadar memenuhi tradisi yang sudah diadatkan dan dilakasanakan oleh nenek moyang beberapa tahun yang lalu,juga acaranya pun disesuaikan dengan kepentingan kepariwisataan untuk menunjang Lappa sebagai obyek wisata.
Pelaksanaannya saat berlangsungnya Pesta Nelayan  ini lebih ditekankan kepada bentuk perayaan pestanya, yaitu dengan mengadakan berbagai hiburan rakyat dan perlombaan seperti :  Pasar malam, lomba jolloro, lomba dayung, lomba mancing, lomba domino, dan panggung ria pesisir .
Demikianlah upacara Mappanre Tasi’ atau pesta adat yang secara harfiah berarti memberi makan kepada dewa laut, itu sesungguhnya tidak dimaksudkan untuk upacara keagamaan yang berbau syirik. Upacara ini dilakukan hanyalah untuk menunaikan adat yang telah ditradisikan nenek moyang dan untuk memperjelas identitas mereka sebagai masyarakat nelayan yang sumber kehidupannya adalah di laut.

Komentar Facebook

About admin