Jumat, 24 Maret 2017

Sejarah Sinjai

SEJARAH SINJAI

Kabupaten Sinjai mempunyai nilai histories tersendiri, dibanding dengan kabupaten-kabupaten lain di Propinsi Sulawesi Selatan. Dulu terdiri dari beberapa kerajaan-kerajaan, seperti kerajaan yang tergabung dalam federasi Tellu Limpoe dan Kerajaan – kerajaan yang tergabung dalam federasi Pitu Limpoe.

(Sinjai district has its own historical value, compared with districts in South Sulawesi Province. It used to consist of several kingdoms, such as belonging to the royal federation Tellu Limpoe and the Kingdom – the kingdom who are members of the federation Limpoe Pitu.)
Tellu limpoe terdiri dari kerajaan-kerajaan yang berada dekat pesisir pantai yakni Kerajaan  yakni Tondong, Bulo-bulo dan Lamatti, serta Pitu Limpoe adalah kerajaan-kerajaan yang berada di daratan tinggi yakni Kerajaan Turungen, Manimpahoi, Terasa, Pao, Manipi, Suka dan Bala Suka.

(Tellu limpoe consists of the kingdoms that are near the coast of the Kingdom of the Tondong, Bulo-Bulo and Lamatti, and Pitu Limpoe the kingdoms in the highlands of the Kingdom of Turungen, Manimpahoi, feels, Pao, Manipi, Joy and Bala like.) 

Watak dan karakter masyarakat tercermin dari system pemerintahan demokratis dan berkedaulatan rakyat. Komunikasi politik di antara kerajaan-kerajaan dibangun melalui landasan tatanan kesopanan Yakni Sipakatau yaitu Saling menghormati, serta menjunjung tinggi nilai-nilai konsep “Sirui Menre’ Tessirui No’ yakni saling menarik ke atas, pantang saling menarik ke bawah, mallilu sipakainge yang bermakna bila khilaf saling mengingatkan.

(The nature and character of society is reflected in the system of democratic government and the sovereign people. Political communication between the kingdoms of the foundation structure is built through the courtesy That Sipakatau Mutual respect, and uphold the values of the concept of “Sirui Menre ‘Tessirui No’ which attract each other up, never pull each other down, mallilu sipakainge meaningful if err remind each other.)

Sekalipun dari ketiga kerajaan tersebut tergabung ke dalam Persekutuan Kerajaan Tellu Limpo’E namun pelaksanana roda pemerintahan tetap berjalan pada wilayahnya masing-masing tanpa ada pertentangan dan peperangan yang terjadi diantara mereka.

(Even from the three kingdoms are incorporated into the Empire Guild Tellu Limpo but the wheels of government continue to run in their respective areas without any conflicts and wars that took place between them.)

Bila ditelusuri hubungan antara kerajaan-kerajaan yang ada di kabupaten Sinjai di masa lalu, maka nampaklah dengan jelas bahwa ia terjalin dengan erat oleh tali kekeluargaan yang dalam Bahasa Bugis disebut SIJAI artinya sama jahitannya.

(When exploring the relationship between the kingdoms in Sinjai district in the past, then It appeared clearly that it is closely intertwined with the kinship of the Bugis language called SIJAI means the same seam.)

Hal ini diperjelas dengan adanya gagasan dari LAMASSIAJENG Raja Lamatti X untuk memperkokoh bersatunya antara kerajaan Bulo-Bulo dan Lamatti dengan ungkapannya “PASIJA SINGKERUNNA LAMATI BULO-BULO” artinya satukan keyakinan Lamatti dengan Bulo-Bulo, sehingga setelah meninggal dunia beliau digelar dengan PUANTA MATINROE RISIJAINA.

(This is made clear by the idea of LAMASSIAJENG King Lamatti X to strengthen the union between the kingdom and Bulo-Bulo Lamatti with the phrase “PASIJA Bulo-Bulo SINGKERUNNA LAMATI” means to bring together faith-Bulo Bulo Lamatti with, so that after death he held with PUANTA MATINROE RISIJAINA .)  

Eksistensi dan identitas kerajaan-kerajaan yang ada di Kabupaten Sinjai di masa lalu semakin jelas dengan didirikannya Benteng pada tahun 1557. Benteng ini dikenal dengan nama Benteng Balangnipa, sebab didirikan di Balangnipa yang sekarang menjadi Ibukota Kabupaten Sinjai. Disamping itu, benteng ini pun dikenal dengan nama Benteng Tellulimpoe, karena didirikan secara bersama-sama oleh 3 (tiga) kerajaan yakni Lamatti, Bulo-bulo, dan Tondong  lalu dipugar oleh Belanda melalui perang Manggarabombang.

(Existence and identity of the kingdoms that exist in the district in the past Sinjai increasingly clear with the establishment of the Citadel in 1557. This fortress known as Fort Balangnipa, as established in what is now Balangnipa Sinjai.Disamping Capital District, the fort is also known as Fort Tellulimpoe, since it was established jointly by the 3 (three) Lamatti the kingdom, Bulo-Bulo, and then restored by the Dutch Tondong through Manggarabombang war.)

Agresi Belanda tahun 1859 – 1561 terjadi pertempuran yang hebat sehingga dalam sejarah dikenal nama Rumpa’na Manggarabombang atau perang Mangarabombang, dan tahun 1559 Benteng Balangnipa jatuh ke tangan belanda.

(Aggression Netherlands in 1859 – 1561 occurred the great battle that is known names in the history or war Rumpa’na Manggarabombang Mangarabombang, and in 1559 went to Fort Balangnipa dutch.)

Tahun 1636  orang Belanda mulai datang ke daerah Sinjai. Kerajaan-kerajaan di Sinjai menentang keras upaya Belanda untuk mengadu domba menentang keras upaya Belanda unntuk memecah belah persatuan kerajaan-kerajaan yang ada di suilawesi Selatan. Hal ini mencapai puncaknya dengan terjadinya  peristiwa pembunuhan terhadap orang-orang Belanda yang mencoba membujuk Kerajaan Bulo-bulo untuk melakukan peran terhadap kerajaan Gowa. Peristiwa ini terjadi tahun 1639.

(In 1636 the Dutch began to come to the area Sinjai. Sinjai kingdoms in the Netherlands strongly opposes efforts to play off against the hard efforts unntuk divisive Dutch empires in South suilawesi. This culminated in the murder of Dutch people who tried to persuade the Kingdom of Bulo-Bulo to perform the role of the monarchy Gowa.Peristiwa occurred in 1639.)

Hal ini disebabkan oleh rakyat Sinjai tetap perpegan teguh pada PERJANJIAN TOPEKKONG. Tahun 1824 Gubernur Jenderal Hindia Belanda VAN DER CAPELLAN datang dari Batavia untuk membujuk I CELLA ARUNG Bulo-Bulo XXI agar menerima perjanjian Bongaya dan mengisinkan Belanda Mendirikan Loji atau Kantor Dagang di Lappa tetapi ditolah dengan tegas.

(This is caused by people Sinjai perpegan remain steadfast in TOPEKKONG AGREEMENT. In 1824 the Governor-General of the Dutch East Indies VAN DER CAPELLAN came from Batavia to persuade the I-Bulo Bulo Cella whitewater XXI to accept the agreement and permit you Bongaya Establishing Loji or Dutch Trade Office in lappa but firmly rejected.)

Tahun 1861  berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Sulawesi dan Daerah, takluknya wilayah Tellulimpoe Sinjai dijadikan satu wilayah pemerintahan dengan sebutan Goster Districten. Tanggal 24 pebruari 1940, Gubernur Grote Gost menetapkan pembangian administratif untuk daerah timur termasuk residensi Celebes, dimana Sinjai bersama-sama  beberapa kabupaten lainnya berstatus sebagai Onther Afdeling Sinnai terdiri dari beberapa adats Gemenchap, yaitu Cost Bulo-bulo, Tondong, Manimpahoi, Lamatti West, Bulo-bulo, Manipi dan Turungeng.

(In 1861 by Governor’s Decree and the Sulawesi Region, surrender Sinjai Tellulimpoe region into one region as Goster Districten government. On 24 February 1940, Governor Grote GOST establish administrative pembangian to the east including residency Celebes, where Sinjai together some of the other districts existed as onther Afdeling Sinnai consists of several adats Gemenchap, namely Cost-Bulo Bulo, Tondong, Manimpahoi, Lamatti West, Bulo-Bulo, Manipi and Turungeng.)

Pada masa pendudukan Jepang, struktur pemerintahan dan namanya ditatah sesuai dengaan  kebutuhan Bala Tentara Jepang yang bermarkas di Gojeng.

(During the Japanese occupation, the structure of government and carved his name in accordance dengaan Bala needs of Japanese soldiers stationed in Gojeng)

Setelah Proklamasi Kemerdekaan 1945 yakni tanggal 20 Oktober 1959 Sinjai resmi menjadi sebuah kabupaten berdasarkan Undang-Undang RI Nomor 29 Tahun 1959.

(After the Declaration of Independence in 1945 which is dated October 20, 1959 Sinjai officially became a county pursuant to Act No. 29 of 1959.)

Dan pada tanggal 17 Pebruari 1960 Abdul Latief dilantik menjadi Kepala Daerah Tingak II Sinjai yang Pertama.

And on 17 February 1960 Abdul Latif was appointed to be Head of the First Sinjai Tingak II.

Hingga saat ini Kabupaten Sinjai telah dinahkodai oleh 8 (delapan) orang putra terbaik dan saat ini Kabupaten Sinjai dipimpin oleh Bapak H. Sabirin Yahya, S.Sos
Dengan motto SINJAI BERSATU Kabupaten sinjai terus maju dan berkembang menuju masa depan yang cerah…………..!!!

(Until now the district has dinahkodai Sinjai by 8 (eight) and the best sons of the District is currently chaired by Mr H. Sabirin Yahya, S.Sos, With the motto united Sinjai Sinjai district continues to progress and develop towards a bright future …………..!)

Adapun Bupati yang pernah menjabat sebagai Kepala Daerah di Kabupaten Sinjai adalah :

The Regent who has served as Head of Region in Sinjai District are:

1. Mayor Abdul Lathief Tahun  1960 – 1963
2. Andi Azikin Tahun  1963 – 1967
3. Drs. H. Muh. Nur Thahir Tahun  1967 – 1971
4. Drs. H. Andi Bintang Tahun  1971 – 1983 ( 2 Periode )
5. H. A. Arifuddin Mattotorang, SH Tahun  1983 – 1993 ( 2 Periode )
6. H. Muh. Roem, SH, M.Si Tahun  1993 – 2003 ( 2 Periode )
7. Andi Rudiyanto Asapa, Sh, LLM

8. H. Sabirin Yahya, S.Sos

Tahun  2003 – 2013 ( 2 Periode )

Tahun  2013 – sampai sekarang

About admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*